Now Playing Tracks

Malam Sebatang Lisong

selamat datang kegelisahan
mampirlah sejenak di sepertiga malamku
sembari ku pungutkan satu demi satu lisong 
untuk waktu sahurmu detik ini
dan ku temani engkau 
bersama nyamuk-nyamuk yang susah tidur
menanti darah yang lalai
ditunggui pemiliknya.

selamat pagi para pelacur 
yang menghuni kasur lusuh
ditinggal para pelanggan.
berbagilah selayaknya manusia
tiap kali butuh kasih tuhannya
seperti halnya binatang
dengan naluri ia makan
dan menjaga dirinya sendiri
untuk mencari kedamaian.

malam yang begitu miskin
adalah di mana tak ada satupun batin
untuk mencari
_apalagi berbagi
kepada siapapun yang empunya nyawa.
kepada siapa aku bertanya,
saat beribu-ribu kegelisahan
tak ada jawaban dari siapa.

sekali lagi ku ucapkan selamat datang kegelisahan
lalu ku suguhkan imaji nakal
dan sepotong kue kemarin lusa
menemani kerinduanmu pada kedamaian
__untukku saja
dan mungkin esok,
matahari menertawaiku
lewat sinarnya yang layu
diterpa hujan 
saat datang siang hari.

Malam Sebatang Lisong

selamat datang kegelisahan
mampirlah sejenak di sepertiga malamku
sembari ku pungutkan satu demi satu lisong 
untuk waktu sahurmu detik ini
dan ku temani engkau 
bersama nyamuk-nyamuk yang susah tidur
menanti darah yang lalai
ditunggui pemiliknya.

selamat pagi para pelacur 
yang menghuni kasur lusuh
ditinggal para pelanggan.
berbagilah selayaknya manusia
tiap kali butuh kasih tuhannya
seperti halnya binatang
dengan naluri ia makan
dan menjaga dirinya sendiri
untuk mencari kedamaian.

malam yang begitu miskin
adalah di mana tak ada satupun batin
untuk mencari
_apalagi berbagi
kepada siapapun yang empunya nyawa.
kepada siapa aku bertanya,
saat beribu-ribu kegelisahan
tak ada jawaban dari siapa.

sekali lagi ku ucapkan selamat datang kegelisahan
lalu ku suguhkan imaji nakal
dan sepotong kue kemarin lusa
menemani kerinduanmu pada kedamaian
__untukku saja
dan mungkin esok,
matahari menertawaiku
lewat sinarnya yang layu
diterpa hujan 
saat datang siang hari.

DIALOG TUHAN

tuhan, jika kau ijinkan
aku akan tetap mencintai negeri ini
meski kau ambil separuh tanahku
dan kau derma samudera pada tetangga
karena ijinMu aku berpangku

tuhan,
jika kau ijinkan
kan ku rajut kembali tali silaturahmi
walau telah benar perpecahan mendiami
si kaya dan si miskin tak saling kenali
dendam dan amarah menyantuni
namun karena ridhoMu
pastilah ku semai kembali

tuhan,
negeriku bernama Indonesia
kau cipta kaya budi dan karya
juga sabar menebar sebar
syukur meluhur tutur
demi asmaMu masuklah engkau kedalam nadiku
ridhoilah jalan menuntunku
dalam bayang yang tetap berpacu
negeriku berada damai di jalan Mu

peluh yang tiap kali menetes ini
ada dikala ikhtiarikhtiar kami
merapat dalam shafshaf kiblat
saling jinjing agar negeri patut dijunjung
hanya itu yang sanggup kami sanjung
untuk Mu tuhanku.

Semarang, 29 Januari 2012

Dialog Tuhan

tuhan, jika kau ijinkan
aku akan tetap mencintai negeri ini
meski kau ambil separuh tanahku
dan kau derma samudera pada tetangga
karena ijinMu aku berpangku

tuhan,
jika kau ijinkan
kan ku rajut kembali tali silaturahmi
walau telah benar perpecahan mendiami
si kaya dan si miskin tak saling kenali
dendam dan amarah menyantuni
namun karena ridhoMu
pastilah ku semai kembali

tuhan,
negeriku bernama Indonesia
kau cipta kaya budi dan karya
juga sabar menebar sebar
syukur meluhur tutur
demi asmaMu masuklah engkau kedalam nadiku
ridhoilah jalan menuntunku
dalam bayang yang tetap berpacu
negeriku berada damai di jalan Mu

peluh yang tiap kali menetes ini
ada dikala ikhtiarikhtiar kami
merapat dalam shafshaf kiblat
saling jinjing agar negeri patut dijunjung
hanya itu yang sanggup kami sanjung
untuk Mu tuhanku.

Semarang, 29 Januari 2012

Majulah nak,

majulah nak,
meski hanya sejengkal
kejarlah terus kemana perginya bayanganmu
jangan berhenti diangka yang sama
jadikan pencarianmu wujud bukan jumud
bukan pula kau yang hanya bertekuk lutut
pada bayangmu sendiri di waktu malam

menangislah jika itu mampu menggubah letihmu
menjadi bara yang esok menyala
menarikan karya dihuni rasa
menjadi pijak adikmu esok lusa

ku temani kau melarik lagu
tentang rindu di rumah madu
mogakah manis kan melaris
dan pahit kan terbirit
kala fajar melamarmu.

Semarang, 29 Januari 2012

Bidadari Bermata Biru

kau bidadari bermata biru
kayuh langkah tanpa segudang pilu
kala dalam sendau ada seutas deru
melarak riuh hati yang kemarau
kemudian lahir tata krama disana

inikah semangkuk hujan yang kau buat
memecah kemilau mata biru menderu
indahkan nyanyian sayup rindu tertiup angin
lalu angankan pinangkan sayap hujan
temu shilah jiwa rekahkan langkah
agar saat mata dibuka
adalah engkau ramu jejakmu
untukku…

Semarang, 29 Januari 2012

KAUKAH ITUkaukah itu terpancar dengan nanar di wajahmumenyisir bolabola waktu yang ku panjatsedari hari yang memakna duahingga jingga nampak berkilauan di ujung senjamatamu menukilkan kail di kedua retinakudan melarung jasad sampai tak kuasa ku tatapkaukah itujelma jalma dalam semangkuk buburlembut menyentuhku dalam pinangan saat kita bercerita tentang megamegalalu kau julurkan tanganmu disanaserasa kau payungi aku dalam sebuah bejanayang mirip sekali pernikahan surgasaat itu pula aku tak kuasa kepakkan sayapkarena separuh iga ku serasa kau derma dalam dirimukaukah itukelebat mahkota yang syarat makna tersirat karena kau berada di pucuk timang mayapadadan aku harus menyeru dewadewadalam cakap imaji sekelumit mantradiam mu membawaku pada tepian bintang yang telah lama temaramwalau kupaksa sua, namun hatimu masih terpejamkaukah ituku coba baca detik waktu dalam sebuah cawandan ku harap iba mu menuntun ku pada khalaqah bidadariserta ku pilih engkau menjadi sesosok dewiku jadikan rahim mu, sesuci maryam melahir isadan ku kudus kan cintamu kepada semua jemaatagar diammu mampu mereka ta’wil agar pula ta’wil itu di jadikan kail yang mereka pegang disetiap petangsaat senja memanah sepasang ikanSemarang.09.07.10
Zoom Info
Camera
Canon EOS 400D DIGITAL
ISO
100
Aperture
f/9.5
Exposure
1/180th
Focal Length
78mm

KAUKAH ITU

kaukah itu
terpancar dengan nanar di wajahmu
menyisir bolabola waktu yang ku panjat
sedari hari yang memakna dua
hingga jingga nampak berkilauan di ujung senja
matamu menukilkan kail di kedua retinaku
dan melarung jasad sampai tak kuasa ku tatap

kaukah itu
jelma jalma dalam semangkuk bubur
lembut menyentuhku dalam pinangan
saat kita bercerita tentang megamega
lalu kau julurkan tanganmu disana
serasa kau payungi aku dalam sebuah bejana
yang mirip sekali pernikahan surga
saat itu pula aku tak kuasa kepakkan sayap
karena separuh iga ku serasa kau derma dalam dirimu

kaukah itu
kelebat mahkota yang syarat makna tersirat
karena kau berada di pucuk timang mayapada
dan aku harus menyeru dewadewa
dalam cakap imaji sekelumit mantra
diam mu membawaku pada tepian bintang yang telah lama temaram
walau kupaksa sua, namun hatimu masih terpejam

kaukah itu
ku coba baca detik waktu dalam sebuah cawan
dan ku harap iba mu menuntun ku pada khalaqah bidadari
serta ku pilih engkau menjadi sesosok dewi
ku jadikan rahim mu, sesuci maryam melahir isa
dan ku kudus kan cintamu kepada semua jemaat
agar diammu mampu mereka ta’wil
agar pula ta’wil itu di jadikan kail
yang mereka pegang disetiap petang
saat senja memanah sepasang ikan

Semarang.09.07.10

SURGA TERASING tahukah kau surga yang dulu pernah di ceritakan kini mulai mengendap pada sebongkah suratan ia berikan namanya sendiri tentang cinta dan takdir tuhan malam itu aku mulai mencintainya saat fajar menukar terik dan lebam di sekujur tubuhku hampir tak terasa saat itu ia coba tiupkan seruling rindu dari pucuk mega yang hanya selintas ia telah benarbenar tawarkan duka dari sesimpul senyum yang memancar di dada entah bagaimana sepenggal itu kujadikan cerita namun hangat tubuhmu masih juga ku rasa sedetail itu ibaku melerai naluriku sendiri karena kelopak jelaga itu tak hanya memakna dua namun ranum yang mengalun memapah pula pun bantaran kali itu benarbenar nyata walau hanya sekelumit tanda dan dukaduka mengulum timang tanya dan terus menanya kali ini aku mencoba berjalan di atas bayanganku sendiri setiap derap menjadi payung saat hujan menghempas papas kita kali terakhir Semarang, 15 juli 2010

To Tumblr, Love Pixel Union